Terkait Dugaan Pengrusakan Landraad, Dewo Tantang TACB Indramayu Debat Terbuka

Details

Metroonlinenews.com, Indramayu – Polemik kegiatan rehabilitasi eks gedung Landraad (Pengadilan Negeri jaman Belanda) di Alun- Alun Indramayu makin menghangat setelah Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dedi Mushashi menampik tudingan Penggiat Kebudayaan Indramayu, Indra Sulaeman atau yang akrab dipanggil Nang Sadewo yang menyatakan adanya unsur dugaan pengrusakan dari aktivitas pemugaran gedung tua yang sudah berusia 1 abad tersebut.

Dalam live streaming akun Facebook Toni RM pada Selasa (4/1/2022), Dedi Mushasi dalam kapasitasnya sebagai Konsultan Cagar Budaya menjelaskan bahwa upaya revitalisasi dimanapun akan selalu berpotensi merusak namun harus tetap dalam prinsip penyelamatan dan pelestarian. Ia pun mencontohkan Candi Borobudur saat terkena bom kemudian bagian yang rusak dibuat replikanya. Begitupun temuan situs di Sambimaya yang sudah ditimbun lagi sedalam 2,4 meter.

Dedi mengungkapkan, gedung Landraad Indramayu belum tercatat secara resmi sebagai Bangunan Cagar Budaya.

“Gedung Landraad Ini baru diduga sebagai cagar budaya. Belum ada penetapannya,” ujar Dedi.

Ditambahkan Kasi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Indramayu, Tinus, status gedung Landraad baru sebatas diinventarisir sebagai objek diduga Cagar Budaya namun belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

“Kalau registrasi sudah saya lakukan sejak dulu, tapi belum ada penetapannya. Karena waktu itu belum ada Tim Ahli Cagar Budaya,” terang Tinus, Selasa (4/01/2022).

Sementara Nang Sadewo saat dihubungi secara terpisah tetap menyesalkan adanya penghilangan nilai historis dan penghapusan jejak, marwah atau roh gedung bersejarah itu.

“Lalu bagaimana kita nanti menceritakan kepada anak cucu jika gedung itu bekas pengadilan jika jejak ruang sidangnya dihancurkan, diratakan bahkan ornamennya tak tersisa satupun,” kata Dewo.

“Namun fakta yang kita lihat terhadap upaya penyelamatan, konservasi dan pemugarannya saat ini sudah menyeberangi aturan. Yang terjadi adalah pengrusakan dengan tanda kutip,” tuturnya, Kamis (6/01/2022).

Ditegaskan Dewo, Indramayu sudah memiliki Perda Nomor 15 tahun 2012 yang didasari Undang- Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang di dalamnya menyebutkan bahwa perlakuan terhadap bangunan yang diduga Cagar Budaya maupun sudah ditetapkan Cagar Budaya perlakuannya harus sama. Dewo juga menantang TACB Indramayu dan Dinas terkait untuk debat terbuka menyelesaikan persoalan ini.

“Untuk memperjelas permasalahan ini kepada yang mengatasnamakan TACB dan Dinas terkait ayo berdiskusi  dalam satu ruang serta disaksikan publik agar hal ini tak boleh terulang kembali,” tantang Dewo.

(Agus).

Terkait Dugaan Pengrusakan Landraad, Dewo Tantang TACB Indramayu Debat Terbuka