BPP Haurgeulis, Pendampingan Kelompok Tani Pelatihan Simurp

Details

Metroonlinenews.com, Indramayu – Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Haurgeulis kembali melakukan pendampingan program Stategic Irigation Modernization Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) dengan agenda melaksanakan pelatihan pembuatan pupuk hayati (organik) dan pestisida nabati kepada para petani. Pendampingan kali ini di Sekretariat Kelompok Tani (Poktan) Tirta Sari Desa Karangtumaritis Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (25/7/3022).

Melly Risdiani, Penyuluh Pertanian dan juga Admin Simluhtan BPP Haurgeulis mengatakan, pelaksanaan Program Simurp di tahun 2022 dimulai dengan penentuan Calon Penerima Calon Lahan (CPCL) Kelompok Tani, penentuan lokasi dan menyusun kegiatan yang akan dilakukan petani. Ada sekitar 24 Poktan lama dan 24 Poktan baru yang mendapat program Simurp di Kecamatan Haurgeulis.

“Sesuai tujuannya, program Simurp merupakan program pertanian cerdas iklim, artinya banyak hal – hal baru yang bisa dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan produktifitas pertanian diluar penggunaan bahan – bahan kimia, seperti pembuatan pupuk hayati, pestisida nabati dan bokasi,” terangnya.

Melly berharap dengan adanya program Simurp, apa yang telah dipraktekan pada saat pelatihan bisa dimanfaatkan oleh petani agar terlihat hasil nyata sekaligus pembanding antara penggunaan bahan kimia dengan penggunaan Simurp, termasuk peningkatan produktifas pertanian dan lahan pertanian menjadi lebih subur.

“Program Simurp ini akan berjalan selama 5 tahun, kali ini memasuki tahun ke tiga, mudah – mudahan akan terlihat hasil yang nyata, diantaranya produktifitas hasil tanaman ada peningkatan dan tanah kembali subur lagi,” pungkas Melly.

Sementara itu, Karija, Ketua Poktan Tirta Sari mengungkapkan, dengan diadakannya pelatihan Simurp, dirinya berharap bisa menambah wawasan pertanian terutama pada pembuatan dan penggunaan pupuk hayati serta pestisida nabati pada lahan pertanian, sehingga bisa meningkatkan hasil pertanian sekaligus menekan biaya produksi agar lebih murah dibanding penggunaan bahan – bahan kimia.

“Semoga penggunaan bahan – bahan organik pada pertanian bisa lebih meningkatkan hasil dan menekan biaya produksi juga ramah lingkungan,” pungkasnya.

(Gunawan)