Adrian: Kelas Menengah Rentan Jadi Penentu Arah Ekonomi Indonesia 2026
Details
Metroonlinenews.com, Jakarta – Ketidakpastian ekonomi global yang memuncak di tahun 2025 lalu, membawa tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, menurut ekonom GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira, SE.,M.S.E., kunci utama menjaga dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional kedepan justru berada pada kondisi kelas menengah rentan di dalam negeri.
Dalam paparan Outlook Ekonomi 2026 ” Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian”, Sabtu (10/1/2026), Adrian menjelaskan, analisis dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara terpadu, menggunakan data dari lembaga nasional dan internasional seperti BPS, IMF, World Bank, dan OECD.
Dikatakannya, secara global, ketidakpastian kebijakan ekonomi mencapai titik tertinggi dalam dua dekade terakhir. Indonesia ikut terdampak, tetapi tantangan terbesarnya justru ada di dalam negeri, terutama pada daya beli kelas menengah yang rentan.
Ia menjelaskan bahwa meskipun konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dan menyumbang lebih dari separuh total pertumbuhan namun struktur konsumsi Indonesia semakin rapuh.
Mayoritas penduduk saat ini berada di kelompok menengah rentan, yang sebagian besar bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang sulit meningkat. Dijelaskan pula jika kelompok ini kehilangan daya beli, konsumsi memang tidak langsung jatuh, melainkan berhenti tumbuh dan hal Itu justru berbahaya untuk keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu dari sisi global, fragmentasi perdagangan, perlambatan ekonomi dunia dan normalisasi harga komoditas membuat sektor ekspor tidak bisa lagi diandalkan sebagai mesin utama pertumbuhan pada 2026. Surplus perdagangan Indonesia mulai menipis, sementara arus modal global masih sangat volatil.
Adrian menilai, kondisi ini membuat Indonesia harus lebih mengandalkan sumber pertumbuhan domestik. Namun investasi juga belum sepenuhnya stabil karena masih bersifat stop and go di tengah ketidakpastian global dan tantangan iklim usaha di dalam negeri. Dalam artian tanpa konsumsi yang kuat, investasi tidak akan masuk. Sedangkan dunia usaha butuh kepastian bahwa pasar domestik tetap hidup.
Disamping itu pentingnya penekanan belanja pemerintah yang tepat waktu dan berkualitas, khususnya yang berdampak langsung pada daya beli dan penciptaan lapangan kerja. Adanya sinyal positif dari rencana pemerintah pun diperlukan untuk melakukan frontloading belanja pada 2026, berbeda dari pola backloading yang dominan dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan berbagai dinamika tersebut, Adrian memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap berpotensi berada di kisaran 5,3–5,6 persen, asalkan didukung reformasi kebijakan yang konsisten.
Disebut pula ada empat agenda transformasi yang perlu menjadi fokus, yaitu transformasi ketenagakerjaan, perbaikan struktur usaha dan iklim investasi sektoral, pengelolaan utang yang lebih adaptif, serta optimalisasi program prioritas agar berdampak nyata pada ekonomi riil. (Zulfikri)