Buku Menggugat Republik, Syahganda : Presiden RI Ideologis Hanya Soekarno dan Prabowo
Details
Metroonlinenws.com, Jakarta – Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan meluncurkan Buku “Menggugat Republik” di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/3/2026). Kegiatan yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema Prabowonomics, Demokrasi dan Arah Republik ke Depan, digelar dan ditutup dengan hidangan buka puasa bersama
Sejumlah tokoh hadir antaranya Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat, pengamat politik Rocky Gerung, anggota Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, serta selebritas Raffi Ahmad
Syahganda menceritakan perjalanan aktivismenya yang bermula dari gerakan mahasiswa hingga menjadi penulis dan pemikir. Dikatakannya pula semangat perlawanan untuk kepentingan bangsa dan rakyat sudah tertanam sejak masa kuliah, khususnya dalam lingkungan aktivis kampus seperti di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Menurut Syahganda, para aktivis saat itu tidak pernah gentar menegakkan kebenaran meski menghadapi berbagai risiko. Dicontohkannya, kisah aktivis Jumhur Hidayat yang tetap berjuang kendati keluarganya mengalami tekanan yaitu ketika ayahnya yang saat itu menjadi calon Dirut Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) dipenjara.
Syahganda menceritakan bagaimana gerakan mahasiswa kala itu melibatkan berbagai kampus lain seperti Universitas Padjadjaran (Unpad) dan bersama sejumlah aktivis membangun berbagai gerakan sosial, mulai dari gerakan buruh hingga gerakan rakyat. Perjuangan itupun masih relevan hingga saat ini.
Di samping itu dalam pandangan Syahganda, hanya ada dua presiden Indonesia yang benar-benar memiliki ideologi kuat, yakni Soekarno dan Prabowo Subianto. Pandangan itupun dituangkannya dalam buku yang ditulis saat berada di penjara, termasuk tentang konsep nasionalisme pada masa muda Soekarno.
Dijelaskan pula nasionalisme Soekarno muda berbeda dengan saat sang proklamator memasuki masa tua yang menurutnya lebih pragmatis. Namun demikian Syahganda menilai Prabowo Subianto masih mempertahankan ideologi kuat hingga usia 75 tahun.
Selain itu di singgung pula tantangan pemerintahan saat ini, seperti kondisi ekonomi masyarakat yang masih membutuhkan solusi cepat, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga perbaikan program sosial. (Zul)