Budidaya Ikan dan Wisata Desa Wanguk Dari Dana Desa, Terbengkalai 

Details

Metroonlinenews.com, Indramayu – Penerapan anggaran Dana Desa (DD) ternyata belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan maksimal oleh Kuwu (Kepala Desa) untuk kesejahteraan masyarakat desa. Banyak kepala desa memimpikan punya wisata desa, sehingga berlomba-lomba membangun wisata dengan harapan bisa meningkatkan Pendapatan Asli Desa yang dipimpinnya.

Namun, pembangunan wisata desa yang menggunakan Dana Desa tersebut kini terlihat mangkrak dan tidak terurus, bisa jadi hal itu akibat salah kelola atau diluar ekspektasi bahkan mungkin pula pembangunan wisata desa itu hanya sekedar sarana penyerapan anggaran Dana Desa semata.

Seperti yang terjadi di Desa Wanguk Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Kawasan wisata desa yang dibangun menggunakan anggaran Dana Desa tahun 2023 sebesar 120 juta yang terletak di bawah jembatan gantung Amarta. Tempat wisata desa tersebut terlihat tak terurus, kumuh dan kurang elok, padahal tempat yang digadang-gadang bakal jadi tempat favorit itu baru beberapa bulan selesai dibangun.

Dikatakan Kuwu desa Wanguk, Komariah saat ditemui di Kantor Desa Wanguk, Selasa (15/10/2024), dirinya mengakui kalau keberadaan pembangunan desa wisata tidak maksimal dilaksanakan dan saat ini terbengkalai karena tidak dilakukan pemeliharaan.

“Kalau pun nanti ada temuan dari Inspektorat, paling tinggal dihitung jumlah besarannya anggarannya dan kalau pun ada temuan,  kami tinggal mengembalikannya ke negara sesuai hasil auditnya,” ucap Komariah dengan santai.

Di Desa Wanguk, selain penggunaan anggaran Dana Desa untuk pembangunan Desa Wisata yang mangkrak dan tak terurus, juga ditemukan serapan anggaran Dana Desa untuk pemberdayaan masyarakat berupa budidaya kolam ikan darat bioflok dengan menyerapan anggaran sebesar 80 juta rupiah yang keadaannya pun tidak jauh berbeda dengan lokasi wisata desa, sama-sama tidak terurus dan terbengkalai.

Dilokasi pemberdayaan tersebut hanya terdapat 2 kolam ikan dengan kondisi 1 kolam terisi air namun tidak ada ikannya, hanya dedaunan kering diatas permukaan air, sedangkan 1 kolam lainnya lagi dalam kondisi kosong.

Saat kembali ditanyakan kepada Kuwu Desa Wanguk, dituturkan bahwasanya pengurusan kolam ikan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada kelompok budidaya ikan (Pokdakan) yang dikelola oleh Asro, yang merupakan staf Desa Wanguk

“Pihak Desa hanya menyediakan sarana dan prasarananya saja, sedangkan pemeliharanannya dilakukan oleh kelompok yang dikelola oleh Lebe Asro. Kolam tersebut sempat beroperasi 1 kali dan saat ini terhenti karena menurut keterangan pengelola hasilnya merugi,” jelas Kuwu Desa Wanguk.

Senada dengan Kuwu Komariyah, salah seorang tetangga Asro membenarkan pelaksanaan budidaya ikan tersebut hanya berjalan 1 kali dan sampai saat ini tidak beroperasi lagi. Hanya saja Asro ketika hendak diminta keterangan ditempat kediamannya, ternyata Asro sedang tidak berada di rumah.

(Gunawan)