Puluhan Pendekar Deklarasikan Ksatria Pribadi Indonesia (KPI)

Details

Puluhan praktisi bela diri deklarasikan Ksatria Pribadi Indonesia pada 25 November 2021

Jakarta, Metroonlinenews.com – Puluhan pendekar dari pelbagai organisasi bela diri di tanah air mendirikan wadah baru bernama Ksatria Pribadi Indonesia (KPI). Pendirian wadah KPI ini diharapkan menjadi jembatan komunikasi, sinergi dan kolaborasi pengembangan seni bela diri di tanah air.

“Kami ingin menyelamatkan marwah beladiri Indonesia ini dengan semangat menjunjung tinggi sportivitas sesama insan beladiri yang berlandaskan persaudaraan sebangsa dan se tanah air. Untuk itulah kami mendeklarasikan berdirinya KPI,” ujar Muhammad Djamil ditemui di Sekretariat KPI Jalan Pondasi nomor 24 Kampung Ambon Rawamangun Jakarta Timur, Senin (6/12/2021).

Djamil menjelaskan, para pendiri KPI itu berasal dari seni bela diri Karate, Silat, Kungfu, Taekwondo, Gulat, Kempo, Wing Chun, Juijitsu Aikido, Kateda, Boxing, Muai Thay, Kick boxing dan lain-lain.

Pendirian KPI ini didasarkan karena seringnya terjadi kesalahpahaman diantara sesama praktisi beladiri yang berlainan organisasi yang biasanya diawali dengan aroganisme sempit antar perkumpulan beladiri.

KPI didirikan oleh tiga ksatria praktisi beladiri, Master Djamil dari Kateda, Master Fahri dari Silat, dan Sensei Karate Kyokusin Sony Kertapati. Deklarasinya dan Milad KPI dihadiri puluhan pendekar di Vila Nesya Cibereum, Kabupaten Bogor pada 25 November lalu.

“Kemunculan ide pendirian wadah KPI ini tak lepas dari diskusi yang panjang yang diprakasai ketiga deklarator ini,” paparnya.

Djamil menuturkan, kehebatan KPI yaitu bisa mempersatukan semua aliran beladiri yang berbeda. Pria yang kerap disapa dengan panggilan Mas Benk ini mengakui tidak mudah mengajak mereka bergabung di KPI karena masing-masing punya ego yang merasa lebih hebat dari yang lain hingga susah disatukan.

“Alhamdulillah, akhirnya ketika kami jelaskan program, visi dan misi KPI, teman-teman mau bersatu di bawah wadah KPI. Kami punya slogan yaitu menjalin persaudaraan sesama insan bukan lembaganya karena kalau lembaganya kan sudah ada yaitu KONI,” papar Mas Benk yang keturuna Aceh ini.

Mas Benk menjelaskan, sejarah pendirian KPI bermula dari Persaudaraan Praktisi Beladiri Indonesia (PPBI) pada tahun 2019. Latar belakang berdirinya PPBI ini karena rasa keprihatinan dan kepedulian yang tinggi terhadap olah raga bela diri di mana sering kali terjadi kesalahapahaman diantara sesama praktisi bela diri yang berlainan beladiri selama ini. Kesalahanpahaman yang diwarnai dengan cekcok, saling mengejek, mencela dan menghina ini tak jarang berakhir dengan perkelahian diantara mereka.

Pada saat PPBI mau daftarkan ke Kemenkumham ditolak karena sudah ada yang pakai nama itu. Akhirnya, salah seorang deklarator yaitu M. Djamil mengusulkan penggantian nama dari PPBI menjadi Ksatria Pribadi Indonesia (KPI). Usulan perubahan nama itu diterima 2 deklarator lain sehingga dengan kesepakatan nama KPI kemudian nama KPI didafarkan ke Kemenkumham pada 25 November 2020 lalu dan keluarlah SK KUMHAM Nomor AHU 0010982.AH.01 07.TAHUN 2020.

“Tanggal keluarnya SK KPI yaitu pada 25 November itu kemudian dengan kesepakatan ketiga pendiri ditetapkan sebagai Hari Kelahiran KPI,” paparnya.

Pelantikan

Pada kesempatan Deklarasi KPI, Ketum terpilih dr. Darnus melantik Ketua DPD KPI Jakarta Dan DPD KPI Jawa barat serta juga pelantikan Ketua KPI DPC Kabuupaten Indramayu,  Sutrisno, dan Ketua KPI DPC Bekasi Kota, Mas Mugi, dan Ketua  KPI DPD Jawa Barat terpilih, Sony Kertapati.

“Alhamdulillah, di usia nya yang masih relatif muda KPI telah berhasil membentuk Para Ketua KPI  tingkat DPD/ Provinsi ditambah KPI tingkat DPC/ Pengcab. Untuk tingkat DPD KPI sudah ada di 20 Provinsi,” pungkas dr. Darnus. (Zfd)