Milad STII, Pilih Presidan Peduli Petani

Details

Metronewsonline.com, Jakarta –¬†Milad ke 76 Serikat Tani Islam Indonesia, Pemilu 2024 Diharapkan Memilih Presidan Yang Peduli Petani.

Resepsi milad dan Dialog Publik dengan tema ‘Arah Partai Politik Islam dan Partai Berbasis Massa Islam Menyongsong Kepemimpinan Nasional dalam Pemilu 2024’ berlangsung Sabtu 12 November di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M Natsir Jakarta.

Hadir sebagai pembicara Viva Yoga Mauladi, (DPP Partai Amanat Nasional), Masrur Anhar (Partai Bulan Bintang), Aep Nurdin, (Partai Keadilan Sejahtera) dan Rusli Effendi (Partai Persatuan Pembangunan).

Ketua Umum STII Fathurrahman Mahfudz menjelaskan alasan STII mengangkat tema tentang politik 2024.

Menurut Fathurahman, petani merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Oleh karena itu siapapun yang akan menjadi presiden mendatang mestinya pemimpin yang memikirkan kesejahteraan petani.

“Kita ingin melihat pandangan, visi dan strategi dari masing masing partai terhadap program atau strategi untuk mensejahterakan petani. Karena petani adalah mayoritas penduduk Indonesia,” ujar Fathurahman.

Fathurrahman menambahkan jika bangsa ini ingin maju maka harus dipimpin oleh presiden yang tepat dan strategis untuk masyarakat. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah petani maka pemimpin ke depan adalah pemimpin yang mengerti aspirasi petani.

Sementara itu aktivis DPP Partai Persatuan Pembangunan Rusli Effendy menyatakan partainya terus berusaha untuk meningkatkan peran dalam membawa aspirasi masyarakat termasuk para petani.

Rusli mengimbau dalam pemilu 2024 mendatang tidak terjadi lagi pembelahan masyarakat seperti yang terjadi pada pemilu 2019. Dimana masyarakat pendukung Capres terbagi menjadi kelompok kampret dan kelompok cebong.

Keterbelahan politik yang terjadi pasca Pilpres 2019 terjadi karena kesalahan dalam menerjemahkan politik identitas.

“Ya karena itu kita jangan sampai menerjemahkan partai identitas dengan salah. Partai identitas itu boleh saja tapi jangan sampai sentuhannya ke sara. Ya masak sih partai Islam tidak memperjuangkan suara umat Islam? Logikanya kan Demokrasi. Politik identitas itu tidak haram selagi tidak memecah belah rakyat dan bangsa,” ujarnya.

Rusli juga mengajak masyarakat untuk melihat calon pemimpin secara jujur berdasarkan prestasi dan rekam jejak di masyarakat, bukan berdasarkan pada agama, suku atas ras dari seorang calon pemimpin. (Toha)